Dalam Renta

Seorang kakek yang sedang terlelap nyenyak dalam mimpinya. Saya temukan dia di seputaran Joyoboyo.
Kehidupan Kaum Marjinal Yang Terekam Dalam Kamera

Seorang kakek yang sedang terlelap nyenyak dalam mimpinya. Saya temukan dia di seputaran Joyoboyo.

Disinilah diriku mengais rejeki dari belas kasihan orang-orang yang melihatku. Sekejam itukah nasib hidup ini? Betapa yang kaya dan yang miskin begitu mencolok di depan mata.

Suasana malam yang dingin membuat tidur pak tua menjadi semakin nyenyak. Tidak peduli biarpun terpejamnya mata itu hanya sejenak dan berada di pinggiran jalan.

Seorang tuna wisma yang saya temukan sedang asyik terlelap di pedestrian Raya Darmo. Tepatnya, di depan apotik Kimia Farma.

Seorang pria yang harus bekerja dengan cara mengemis untuk bisa bertahan hidup. Namun, ada sedikit pertanyaan: Apakah anak kecil dalam dekapan pria itu betul anaknya? ataukah hanya modus agar bisa menarik simpati orang lain? ahh… itulah kehidupan, lika-likunya penuh dengan misteri.

Masih seputaran jalan Wonokromo, Surabaya. Di suatu perempatan jalan, yang menjadi muara kehidupan kaum marjinal di kota besar.

Pagi, sekitar pukul 08.00 saya menemukan seorang nenek yang bekerja sebagai pengemis, sedang menikmati sarapan paginya. Janda-janda tua yang jompo seperti ini, siapa yang berkewajiban untuk merawatnya?

Diatas kendaraan buatannya ini, Imam Zaini seorang tuna wisma yang tidak memiliki kaki mencoba tetap eksis ditengah kerasnya kota. Setiap hari, ia “mangkal” di perempatan Kutai-Hayam Wuruk, dengan kendaraan mirip becak yang dikayuh dengan tangan bertuliskan “Ngubengi Kutho”. Filosofi dari kata-kata itu adalah: mengelilingi kota mencari belas kasihan dari orang yang melihatnya.

Seorang tuna wisma yang mencoba beristirahat di tengah hiruk-pikuk kota.

Orang biasa memanggilnya Pak Pong, yang artinya Pak Ompong. Nama aslinya Mbah Tamsir dengan usia –yang menurutnya– sudah diatas 100 tahun. “Wong Pak Karno dadi Presiden ae aku wes gede kok, wes tuwa (Wong Pak Karno jadi Presiden saja aku sudah besar kok, sudah tua),” begitu pengakuannya kepada saya. Mbah Tamsir seorang pengayuh becak yang hidup sebatangkara di jalan Ciliwung, pas di dekat Bakso Solo Ciliwung yang terkenal itu. Sehari-hari, beliau tinggal diatas becaknya. Bahkan ketika malam mulai datang dan udara dingin sudah terasa menusuk tulang, ia pun terlelap tidur diatas becak yang sekaligus menjadi rumah berjalannya.