Agu 03

dalam-renta

Seorang kakek yang sedang terlelap nyenyak dalam mimpinya. Saya temukan dia di seputaran Joyoboyo.

Jul 29

ngubengi-kutho

Disinilah diriku mengais rejeki dari belas kasihan orang-orang yang melihatku. Sekejam itukah nasib hidup ini? Betapa yang kaya dan yang miskin begitu mencolok di depan mata.

Jul 29

img_8487

Suasana malam yang dingin membuat tidur pak tua menjadi semakin nyenyak. Tidak peduli biarpun terpejamnya mata itu hanya sejenak dan berada di pinggiran jalan.

Jul 29

img_4693

Seorang tuna wisma yang saya temukan sedang asyik terlelap di pedestrian Raya Darmo. Tepatnya, di depan apotik Kimia Farma.

Jul 23

aku-dan-anakku

Seorang pria yang harus bekerja dengan cara mengemis untuk bisa bertahan hidup. Namun, ada sedikit pertanyaan: Apakah anak kecil dalam dekapan pria itu betul anaknya? ataukah hanya modus agar bisa menarik simpati orang lain? ahh… itulah kehidupan, lika-likunya penuh dengan misteri.

Jul 21

blind-man

Masih seputaran jalan Wonokromo, Surabaya. Di suatu perempatan jalan, yang menjadi muara kehidupan kaum marjinal di kota besar.

Jul 21

img_0746

Pagi, sekitar pukul 08.00 saya menemukan seorang nenek yang bekerja sebagai pengemis, sedang menikmati sarapan paginya. Janda-janda tua yang jompo seperti ini, siapa yang berkewajiban untuk merawatnya?

Jul 20

img_9131

Diatas kendaraan buatannya ini, Imam Zaini seorang tuna wisma yang tidak memiliki kaki mencoba tetap eksis ditengah kerasnya kota. Setiap hari, ia “mangkal” di perempatan Kutai-Hayam Wuruk, dengan kendaraan mirip becak yang dikayuh dengan tangan bertuliskan “Ngubengi Kutho”. Filosofi dari kata-kata itu adalah: mengelilingi kota mencari belas kasihan dari orang yang melihatnya.

Jul 20

img_0276

Seorang tuna wisma yang mencoba beristirahat di tengah hiruk-pikuk kota.

Jul 20

img_0032

Orang biasa memanggilnya Pak Pong, yang artinya Pak Ompong. Nama aslinya Mbah Tamsir dengan usia –yang menurutnya– sudah diatas 100 tahun. “Wong Pak Karno dadi Presiden ae aku wes gede kok, wes tuwa (Wong Pak Karno jadi Presiden saja aku sudah besar kok, sudah tua),” begitu pengakuannya kepada saya. Mbah Tamsir seorang pengayuh becak yang hidup sebatangkara di jalan Ciliwung, pas di dekat Bakso Solo Ciliwung yang terkenal itu. Sehari-hari, beliau tinggal diatas becaknya. Bahkan ketika malam mulai datang dan udara dingin sudah terasa menusuk tulang, ia pun terlelap tidur diatas becak yang sekaligus menjadi rumah berjalannya.

Kami Pasti Peduli